Waktu pertama kali main Samson: A Tyndalston Story, gue nggak datang dengan ekspektasi setinggi langit. Justru sebaliknya—gue tahu ini bukan game AAA besar, dan itu yang bikin gue tertarik. Pendekatannya yang lebih fokus, lebih “padat”, dan mengutamakan intensitas dibanding luasnya konten terasa seperti angin segar di tengah game open-world yang sering kebanyakan filler.
Beberapa jam pertama, semuanya terasa cukup menjanjikan. Game ini langsung ngenalin sistem harian yang bikin setiap keputusan terasa penting. Lo harus mikir matang: mau fokus ke cerita atau cari duit dulu buat bayar utang. Ada tekanan yang konstan, dan itu bikin setiap misi terasa punya bobot. Di titik ini, gue benar-benar merasa game ini punya identitas yang kuat.
Gameplay Mulai Kehilangan Arah
Masalahnya mulai terasa ketika gue sudah cukup lama bermain. Sistem yang awalnya terasa fresh pelan-pelan mulai kehilangan daya tariknya. Combat yang sepenuhnya mengandalkan pertarungan jarak dekat awalnya terlihat unik dan cukup cinematic. Tapi semakin sering dipakai, semakin terasa kaku dan kurang responsif.
Dalam situasi satu lawan satu, semuanya masih bisa dinikmati. Tapi begitu musuh mulai banyak, pertarungan berubah jadi kekacauan. Animasi terasa tidak sinkron, kontrol kadang tidak responsif, dan sering kali gue sendiri nggak yakin apakah aksi yang gue lakukan benar-benar berjalan sesuai input. Bukannya merasa makin jago, gue justru merasa seperti sekadar bertahan di tengah sistem yang berantakan.
Di tengah semua itu, driving jadi salah satu hal yang sempat menyelamatkan pengalaman gue. Mobil-mobil di game ini punya rasa yang berat dan agak “liar”, seperti kendaraan tua yang susah dikendalikan. Anehnya, justru itu yang bikin seru.
Ada kepuasan tersendiri saat ngejar target atau nabrak kendaraan lain di jalanan kota yang suram itu. Tapi lagi-lagi, keseruan ini nggak bertahan lama. Kerusakan mobil yang terlalu cepat, AI yang kadang aneh, dan desain misi yang berulang membuat bagian ini ikut kehilangan pesonanya seiring waktu.
Tidak Ada Variasi
Semakin jauh gue bermain, semakin jelas bahwa game ini punya masalah besar dengan variasi. Hampir semua misi terasa sama. Mau itu misi utama atau sampingan, ujung-ujungnya selalu kembali ke pola yang sama.
Awalnya mungkin masih bisa ditoleransi, tapi setelah beberapa jam, rasa bosan mulai terasa. Tidak ada momen yang benar-benar mengejutkan atau berbeda. Bahkan bagian cerita yang seharusnya jadi highlight pun terasa seperti pengulangan dari aktivitas yang sudah sering gue lakukan sebelumnya.
Padahal, premisnya sebenarnya menarik. Kisah tentang utang, tekanan hidup, dan hubungan keluarga punya potensi emosional yang kuat. Tapi sayangnya, penyampaiannya terasa datar.
Dialognya sering terasa generik, karakter-karakternya kurang berkesan, dan konflik yang seharusnya terasa mendesak malah tidak benar-benar memberikan dampak emosional. Gue tetap mengikuti ceritanya, tapi bukan karena penasaran—lebih karena berharap ada sesuatu yang akhirnya bisa bikin semuanya terasa worth it.
Bug
Yang paling menguras kesabaran justru datang dari sisi teknis. Selama bermain, gue beberapa kali mengalami bug yang cukup mengganggu, mulai dari misi yang tidak bisa diselesaikan sampai performa yang tiba-tiba menurun.
Ada momen di mana kegagalan bukan karena kesalahan gue, tapi karena sistem game yang bermasalah. Hal seperti ini cukup sering terjadi, dan lama-lama membuat pengalaman bermain terasa lebih melelahkan daripada menyenangkan.
Di balik semua kekurangan itu, ada satu hal yang menurut gue berhasil dieksekusi dengan baik: atmosfer kota Tyndalston. Kota ini terasa kotor, suram, dan penuh rasa putus asa—dan itu justru jadi kekuatan utamanya.
Lingkungannya berhasil menyampaikan cerita tanpa harus banyak bicara. Ada identitas yang terasa kuat, sesuatu yang membuat dunia game ini tetap menarik untuk dilihat, meskipun aktivitas di dalamnya kurang bervariasi.
Kesimpulan
Samson: A Tyndalston Story adalah game yang punya ide menarik dan pendekatan yang berbeda, terutama dalam menciptakan tekanan melalui sistem harian dan manajemen sumber daya. Di awal, semuanya terasa menjanjikan dan cukup segar.
Namun, seiring waktu, berbagai masalah mulai muncul—mulai dari repetisi, combat yang kurang halus, hingga gangguan teknis yang cukup mengganggu. Potensi yang ada terasa seperti tidak sepenuhnya diwujudkan.
Pada akhirnya, ini adalah pengalaman yang sempat membuat penasaran, tapi tidak cukup kuat untuk benar-benar meninggalkan kesan mendalam.
The Review
Samson: A Tyndalston Story
Game ini punya fondasi yang menarik, tapi terlalu banyak masalah di eksekusi—terutama repetisi dan teknis—yang bikin potensinya nggak maksimal.
PROS
- Konsep gameplay yang unik & beda
- Atmosfer kota Tyndalston kuat
- Driving cukup enjoyable di awal
- Ada momen intens yang berhasil
CONS
- Repetitif banget
- Combat kurang solid & terasa kacau
- Cerita dan karakter kurang kuat
- Bug cukup mengganggu
- Desain misi kurang variatif








