Resident Evil Requiem DEALS
Setiap ada game baru dari seri Resident Evil, rasanya tuh selalu beda. Ada hype yang nggak bisa dijelasin. Apalagi ini seri utama. Begitu Resident Evil Requiem diumumkan, gue langsung tahu: oke, ini bukan spin-off, ini bukan eksperimen. Ini momen besar.
Dan setelah tamat? Yang bisa gue bilang cuma satu: Capcom lagi main dua gaya sekaligus — survival horror klasik dan action penuh gaya — dan entah kenapa… kali ini mereka hampir berhasil bikin dua-duanya sama-sama seru.
Dua Protagonis
Di Requiem, kita main sebagai Leon S. Kennedy dan pendatang baru, Grace Ashcroft. Dan dari awal aja sudah terasa kontrasnya.
Leon? Veteran. Survivor Raccoon City. Agent DSO yang udah kenyang pengalaman. Begitu kontrol pindah ke dia, auto pede. Aim stabil, gerakan mantap, auranya beda. Atmosfer tegang langsung agak turun karena kita tahu: “Oke, ini Leon. Dia pasti bisa handle.”
Tapi justru di situlah tantangannya.
Grace, di sisi lain, kebalikannya. Dia cerdas, punya badge FBI, tapi secara fisik dan mental jauh lebih rentan. Animasi napasnya ngos-ngosan, ekspresinya panik, dan inventory-nya terbatas banget. Bawa peluru cuma lima biji rasanya kayak lagi pegang emas.
Dan kombinasi ini bikin gameplay punya ritme yang unik: tegang banget bareng Grace, lalu semi power fantasy pas bareng Leon. Siklus tension–release yang klasik tapi tetap efektif.
Setting awal
Setting awal di Rhodes Hill Chronic Care Center tuh gila sih. Klinik tua, lorong gelap, pasien yang masih “setengah sadar” sama kebiasaan lamanya. Musuh di sini bukan cuma zombie random — mereka masih mempertahankan habit sebelum terinfeksi. Ada yang bersih-bersih jendela. Ada yang obsessed matiin lampu. Ada yang… nyanyi.
Yes, yang nyanyi tetap nyanyi.
Secara mekanik, ini keren banget. Jadi tiap musuh terasa punya “identitas”. Dan kita nggak selalu didorong buat bunuh semua. Banyak yang lebih efektif dihindari.
Grace punya mesin unik yang bisa ngolah darah infected jadi resource crafting. Tapi darahnya terbatas. Jadi tiap keputusan itu penting: mau bersihin area ini sekarang atau nanti? Mau ambil risiko drain corpse di dapur yang gelap gulita? Jangan-jangan bangun lagi?
Ini Resident Evil yang bikin lo jalan pelan-pelan, nahan napas sebelum buka pintu. Save room masih jadi tempat paling nyaman sedunia. Sofa, chest, mesin tik — aman sesaat sebelum mimpi buruk lanjut lagi.
Balik ke Raccoon City? Nostalgia + Lore Bomb
Yes, kita balik ke Raccoon City. Kota yang udah dibom di akhir Resident Evil 3 dan jadi saksi horor di Resident Evil 2.
Dan jujur? Nostalgia-nya kena banget.
Police station, reruntuhan kota, vibe kehancuran total — semuanya bikin memori lama naik ke permukaan. Tapi Requiem nggak cuma jual fanservice. Game ini coba jadi penghubung banyak benang merah dari seri sebelumnya.
Ada semacam “catharsis” tematik yang bikin beberapa kejadian lama terasa lebih nyambung. Buat fans lama, ini kayak dapet closure kecil-kecilan.
Leon Mode
Begitu pindah ke Leon, gameplay langsung berubah tempo. Shoulder camera ala Resident Evil 4 Remake terasa familiar. Sistem buy/sell dan upgrade senjata bikin progression lebih agresif.
Abis beberapa jam farming infected, arsenal Leon bisa jadi brutal. Shotgun, rifle, granat — semua bikin rasa overpowered yang satisfying.
Ada beberapa momen scripted action yang over-the-top, hampir kayak CGI movie. Ada juga encounter lawan unit militer yang rasanya lebih mirip cover shooter. Agak kontras sama DNA survival horror, tapi tetap seru buat variasi.
Masalahnya cuma satu: ketika lo terlalu nyaman nembak gelombang musuh, rasa fear-nya berkurang. Horror paling efektif itu datang dari ketidakpastian, bukan dari jumlah musuh.
First-Person atau Third-Person?
Game ini fleksibel. Bisa first-person ala Resident Evil 7, atau over-the-shoulder modern.
Awalnya gue main Grace di first-person biar makin immersive, dan Leon di third-person. Tapi lama-lama gue full pindah ke third-person karena anxiety gue nggak kuat dan lebih suka aja seperti kembali main RE4 di PS2 dulu.
Game ini gw tamatin di PC dan stabil banget cuy.. ga ada frame rate drop selama gw main. Horror? Jujur aja, nggak ideal buat sebelum tidur… tapi tetep gue mainin juga karna main game di malam hari udah paling enjoy dah.
Variasi yang Berani
Requiem jelas ambisius. Banyak eksperimen mekanik. Beberapa unforgettable, beberapa masih terasa “uji coba”.
Capcom kayak lagi berdiri di dua kaki: satu di legacy survival horror, satu lagi di action modern. Grace mewakili vulnerability. Leon mewakili competence.
Dan justru di situ kekuatannya.
Game ini bukan cuma soal zombie dan virus. Ini soal warisan, trauma, dan gimana ketakutan berubah ketika lo sudah terlalu sering selamat.
Kesimpulan
Resident Evil Requiem adalah kombinasi survival horror klasik dan action modern yang berani. Grace bikin jantung deg-degan, Leon bikin adrenalin naik. Ada nostalgia, ada eksperimen, ada momen hype, dan ada bagian yang terasa keluar jalur. Tapi secara keseluruhan, ini pengalaman yang solid, variatif, dan layak dimainkan — terutama buat fans lama yang pengen lihat masa lalu dan masa depan seri ini tabrakan dalam satu game.
Kalau lo suka tegang, suka lore, dan sesekali pengen ngerasa OP nembakin zombie, Requiem jelas masuk radar. Oh ya bagi kamu yang belum tau, Resident Evil Requiem bakal dapat update PSSR untuk pengguna PS5 Pro loh.
The Review
Resident Evil Requiem
Resident Evil Requiem berhasil memadukan legacy survival horror dengan modern action secara berani. Meski ada beberapa bagian yang terasa kurang seimbang, secara keseluruhan ini adalah pengalaman yang kuat, variatif, dan pantas disebut salah satu rilisan terbaik di seri ini.
PROS
- Dual Protagonist yang Kontras dan Menarik
- Sistem Progression Leon Solid & Satisfying
- Performa Teknis Stabil & Visual Detail Kuat
- Nostalgia Raccoon City yang Kena
CONS
- Variasi Musuh Kurang Maksimal
Resident Evil Requiem DEALS
We collect information from many stores for best price available








