Bagi gamer yang pernah menghabiskan waktu berjam-jam di warnet bermain Crossfire, ada kabar yang mungkin cukup mengejutkan. Franchise shooter milik Smilegate kini hadir dalam bentuk yang benar-benar berbeda.
Dalam ajang Summer Game Fest, studio That’s No Moon resmi mengumumkan Crossfire, sebuah game tactical shooter berbasis cerita yang meninggalkan fokus multiplayer kompetitif dan beralih menjadi pengalaman single-player sinematik.
Ya, ini masih Crossfire yang sama, tetapi kali ini tidak ada pertarungan PvP yang menjadi ciri khas serinya. Sebaliknya, pemain akan disuguhkan petualangan penuh aksi, misteri, dan konflik antar karakter dalam sebuah kampanye cerita yang jauh lebih ambisius.
Jika nama Crossfire terdengar familiar, itu karena franchise ini merupakan salah satu game FPS kompetitif paling populer yang pernah dibuat oleh Smilegate.
Namun dalam versi terbaru ini, fokus utama berada pada dua karakter protagonis:
- Layla Qassem
- Delroy Cross
Cerita dimulai ketika Layla menjalankan misi rahasia di Pegunungan Atlas. Situasi berubah menjadi mimpi buruk ketika ancaman misterius muncul dan mengubah segalanya menjadi kekacauan.
Untuk bertahan hidup, Layla terpaksa bekerja sama dengan Delroy Cross, seorang operator militer elit yang memiliki pandangan dan ideologi yang sangat berbeda dengannya.
Meski saling bertentangan, keduanya harus mengesampingkan konflik pribadi jika ingin keluar hidup-hidup dari situasi tersebut.
Trailer perdana Crossfire menampilkan suasana yang cukup unik.
Selain baku tembak intens, terdapat ancaman misterius yang sekilas mengingatkan pada gerombolan zombie dalam film-film aksi modern.
Meski detail cerita masih dirahasiakan, game ini tampaknya akan menggabungkan elemen militer, survival, dan narasi sinematik dalam satu paket.
Pendekatan ini membuat Crossfire terasa sangat berbeda dibanding akar franchise-nya yang selama ini dikenal sebagai game multiplayer kompetitif.
Salah satu fitur yang paling disorot oleh tim pengembang adalah teknologi baru bernama Adaptive Cover.
Menurut Game Director Jacob Minkoff, sistem ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman berlindung dan bergerak yang lebih natural dibanding game shooter pada umumnya.
Alih-alih menempel secara kaku pada objek tertentu, karakter Layla akan menyesuaikan posisi tubuhnya secara otomatis berdasarkan medan dan posisi musuh di sekitarnya.
Artinya, pemain dapat bergerak, membungkuk, dan memanfaatkan perlindungan secara lebih dinamis tanpa harus bergantung pada sistem cover tradisional yang sering terasa kaku.
Tujuan utama fitur ini adalah menciptakan sensasi pertempuran yang lebih imersif sekaligus memberi ruang bagi pemain untuk mengembangkan keterampilan bermain mereka.
Crossfire sedang dikembangkan oleh That’s No Moon, studio yang dikenal berisi banyak veteran industri game yang sebelumnya pernah mengerjakan berbagai proyek AAA.
Melihat kualitas presentasi trailer dan fokus besar pada aspek naratif, tampaknya studio ini ingin menghadirkan pengalaman shooter yang lebih sinematik dibanding kebanyakan game FPS modern.
Namun untuk saat ini, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama terkait gameplay secara keseluruhan, durasi kampanye, serta bagaimana cerita akan terhubung dengan dunia Crossfire yang sudah dikenal para pemain lama.
Saat ini Crossfire telah dikonfirmasi akan hadir untuk:
- PlayStation 5
- Xbox Series X/S
- PC
Sayangnya, pengembang masih belum mengumumkan tanggal rilis resmi.
Meski begitu, konsep yang ditawarkan sudah cukup menarik perhatian, terutama bagi penggemar game shooter yang menginginkan pengalaman single-player dengan fokus kuat pada cerita.
Kita tahu sendiri sejarah mode campaign Crossfire di masa lalu (waktu digarap Remedy Entertainment) eksekusinya kurang begitu menggigit. Tapi melihat proyek baru ini dipegang oleh That’s No Moon dengan konsep Adaptive Cover yang dinamis, game ini punya potensi besar buat menebus dosa masa lalu franchise ini.












