Game dengan konsep unik biasanya berisiko—apalagi kalau menyentuh tema sensitif seperti agama. Tapi siapa sangka, I Am Jesus Christ justru berhasil mencuri perhatian gamer dan mendapatkan review yang sangat positif di Steam.
Dirilis bertepatan dengan momen Paskah, game ini mengajak pemain untuk menjalani kehidupan Yesus dalam bentuk pengalaman interaktif. Banyak yang awalnya mengira game ini bakal menuai kontroversi atau bahkan kritik keras. Tapi kenyataannya justru sebaliknya—banyak pemain yang menikmati pengalaman yang ditawarkan.
Walaupun jumlah pemain saat launch tidak terlalu besar (sekitar 400-an peak), respons komunitas cukup kuat. Saat ini, game ini mengantongi rating Very Positive di Steam, dengan mayoritas review memuji pendekatan naratif yang terasa kuat dan menyentuh.
Yang bikin menarik, game ini bukan sekadar simulasi biasa. Lo bakal:
- Membantu orang-orang di sekitar
- Melakukan mukjizat
- Mengalami momen penting dalam kehidupan Yesus
Semua itu disajikan dalam format interaktif, jadi terasa seperti lo benar-benar “mengalami” cerita, bukan sekadar menonton.
Beberapa pemain bahkan menyebut game ini sebagai cara baru yang menarik untuk memahami kisah dalam Alkitab—terutama bagi mereka yang sebelumnya merasa pembelajaran tradisional terasa membosankan.
Dari sisi gameplay, ada juga elemen yang cukup unik, seperti sistem “faith meter” dan bahkan sentuhan mekanik traversal yang sedikit mengingatkan pada Assassin’s Creed—sesuatu yang mungkin tidak pernah lo bayangkan ada di game bertema religi.
Ke depan, game ini punya potensi lebih dari sekadar hiburan. Ada kemungkinan bisa digunakan sebagai media edukasi, terutama untuk generasi muda yang lebih tertarik dengan pendekatan interaktif.
I Am Jesus Christ adalah contoh berani dari bagaimana game bisa mengeksplorasi tema yang tidak biasa. Hasilnya ternyata cukup positif, terutama karena pendekatan storytelling yang kuat. Walaupun bukan untuk semua orang, game ini membuktikan bahwa medium game bisa digunakan untuk lebih dari sekadar hiburan—bahkan sebagai sarana edukasi dan refleksi.








