Upgimia
  • Home
  • Berita
    • PC
    • Playstation
    • Xbox
    • Switch
    • Mobile
  • Review
  • Side Quest
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • PC
    • Playstation
    • Xbox
    • Switch
    • Mobile
  • Review
  • Side Quest
No Result
View All Result
Upgimia
No Result
View All Result
Home Review

Review Resident Evil Requiem: Balik ke Raccoon City!

Jimmy by Jimmy
Maret 1, 2026
in Review
0 0
0
Resident Evil Requiem review
FacebookTwitterWhatsapp

Resident Evil Requiem DEALS

  • Steam
    Rp910000 VIEW
  • Epic Games Store
    Rp1039000 VIEW
  • PlayStation Store
    Rp910000 VIEW
  • Microsoft Store
    Rp910000 VIEW
  • Switch 2
    Rp910000 VIEW

Setiap ada game baru dari seri Resident Evil, rasanya tuh selalu beda. Ada hype yang nggak bisa dijelasin. Apalagi ini seri utama. Begitu Resident Evil Requiem diumumkan, gue langsung tahu: oke, ini bukan spin-off, ini bukan eksperimen. Ini momen besar.

Dan setelah tamat? Yang bisa gue bilang cuma satu: Capcom lagi main dua gaya sekaligus — survival horror klasik dan action penuh gaya — dan entah kenapa… kali ini mereka hampir berhasil bikin dua-duanya sama-sama seru.

Dua Protagonis

Di Requiem, kita main sebagai Leon S. Kennedy dan pendatang baru, Grace Ashcroft. Dan dari awal aja sudah terasa kontrasnya.

Leon? Veteran. Survivor Raccoon City. Agent DSO yang udah kenyang pengalaman. Begitu kontrol pindah ke dia, auto pede. Aim stabil, gerakan mantap, auranya beda. Atmosfer tegang langsung agak turun karena kita tahu: “Oke, ini Leon. Dia pasti bisa handle.”

Tapi justru di situlah tantangannya.

Grace, di sisi lain, kebalikannya. Dia cerdas, punya badge FBI, tapi secara fisik dan mental jauh lebih rentan. Animasi napasnya ngos-ngosan, ekspresinya panik, dan inventory-nya terbatas banget. Bawa peluru cuma lima biji rasanya kayak lagi pegang emas.

Dan kombinasi ini bikin gameplay punya ritme yang unik: tegang banget bareng Grace, lalu semi power fantasy pas bareng Leon. Siklus tension–release yang klasik tapi tetap efektif.

Setting awal

Setting awal di Rhodes Hill Chronic Care Center tuh gila sih. Klinik tua, lorong gelap, pasien yang masih “setengah sadar” sama kebiasaan lamanya. Musuh di sini bukan cuma zombie random — mereka masih mempertahankan habit sebelum terinfeksi. Ada yang bersih-bersih jendela. Ada yang obsessed matiin lampu. Ada yang… nyanyi.

Yes, yang nyanyi tetap nyanyi.

Secara mekanik, ini keren banget. Jadi tiap musuh terasa punya “identitas”. Dan kita nggak selalu didorong buat bunuh semua. Banyak yang lebih efektif dihindari.

Grace punya mesin unik yang bisa ngolah darah infected jadi resource crafting. Tapi darahnya terbatas. Jadi tiap keputusan itu penting: mau bersihin area ini sekarang atau nanti? Mau ambil risiko drain corpse di dapur yang gelap gulita? Jangan-jangan bangun lagi?

Ini Resident Evil yang bikin lo jalan pelan-pelan, nahan napas sebelum buka pintu. Save room masih jadi tempat paling nyaman sedunia. Sofa, chest, mesin tik — aman sesaat sebelum mimpi buruk lanjut lagi.

Balik ke Raccoon City? Nostalgia + Lore Bomb

Yes, kita balik ke Raccoon City. Kota yang udah dibom di akhir Resident Evil 3 dan jadi saksi horor di Resident Evil 2.

Dan jujur? Nostalgia-nya kena banget.

Police station, reruntuhan kota, vibe kehancuran total — semuanya bikin memori lama naik ke permukaan. Tapi Requiem nggak cuma jual fanservice. Game ini coba jadi penghubung banyak benang merah dari seri sebelumnya.

Ada semacam “catharsis” tematik yang bikin beberapa kejadian lama terasa lebih nyambung. Buat fans lama, ini kayak dapet closure kecil-kecilan.

Leon Mode

Begitu pindah ke Leon, gameplay langsung berubah tempo. Shoulder camera ala Resident Evil 4 Remake terasa familiar. Sistem buy/sell dan upgrade senjata bikin progression lebih agresif.

Abis beberapa jam farming infected, arsenal Leon bisa jadi brutal. Shotgun, rifle, granat — semua bikin rasa overpowered yang satisfying.

Ada beberapa momen scripted action yang over-the-top, hampir kayak CGI movie. Ada juga encounter lawan unit militer yang rasanya lebih mirip cover shooter. Agak kontras sama DNA survival horror, tapi tetap seru buat variasi.

Masalahnya cuma satu: ketika lo terlalu nyaman nembak gelombang musuh, rasa fear-nya berkurang. Horror paling efektif itu datang dari ketidakpastian, bukan dari jumlah musuh.

First-Person atau Third-Person?

Game ini fleksibel. Bisa first-person ala Resident Evil 7, atau over-the-shoulder modern.

Awalnya gue main Grace di first-person biar makin immersive, dan Leon di third-person. Tapi lama-lama gue full pindah ke third-person karena anxiety gue nggak kuat dan lebih suka aja seperti kembali main RE4 di PS2 dulu.

Game ini gw tamatin di PC dan stabil banget cuy.. ga ada frame rate drop selama gw main. Horror? Jujur aja, nggak ideal buat sebelum tidur… tapi tetep gue mainin juga karna main game di malam hari udah paling enjoy dah.

Variasi yang Berani

Requiem jelas ambisius. Banyak eksperimen mekanik. Beberapa unforgettable, beberapa masih terasa “uji coba”.

Capcom kayak lagi berdiri di dua kaki: satu di legacy survival horror, satu lagi di action modern. Grace mewakili vulnerability. Leon mewakili competence.

Dan justru di situ kekuatannya.

Game ini bukan cuma soal zombie dan virus. Ini soal warisan, trauma, dan gimana ketakutan berubah ketika lo sudah terlalu sering selamat.

Kesimpulan

Resident Evil Requiem adalah kombinasi survival horror klasik dan action modern yang berani. Grace bikin jantung deg-degan, Leon bikin adrenalin naik. Ada nostalgia, ada eksperimen, ada momen hype, dan ada bagian yang terasa keluar jalur. Tapi secara keseluruhan, ini pengalaman yang solid, variatif, dan layak dimainkan — terutama buat fans lama yang pengen lihat masa lalu dan masa depan seri ini tabrakan dalam satu game.

Kalau lo suka tegang, suka lore, dan sesekali pengen ngerasa OP nembakin zombie, Requiem jelas masuk radar. Oh ya bagi kamu yang belum tau, Resident Evil Requiem bakal dapat update PSSR untuk pengguna PS5 Pro loh.

The Review

Resident Evil Requiem

8.8 Score

Resident Evil Requiem berhasil memadukan legacy survival horror dengan modern action secara berani. Meski ada beberapa bagian yang terasa kurang seimbang, secara keseluruhan ini adalah pengalaman yang kuat, variatif, dan pantas disebut salah satu rilisan terbaik di seri ini.

PROS

  • Dual Protagonist yang Kontras dan Menarik
  • Sistem Progression Leon Solid & Satisfying
  • Performa Teknis Stabil & Visual Detail Kuat
  • Nostalgia Raccoon City yang Kena

CONS

  • Variasi Musuh Kurang Maksimal

Review Breakdown

  • Gameplay 0
  • Cerita & Narasi 0
  • Grafis & Visual 0
  • Audio & Voice Acting 0
  • Desain Level & Variasi 0
  • Replay Value 0

Resident Evil Requiem DEALS

We collect information from many stores for best price available

Best Price

Rp910000
  • Steam
    Rp910000 Buy Now
  • Epic Games Store
    Rp1039000 Buy Now
  • PlayStation Store
    Rp910000 Buy Now
  • Microsoft Store
    Rp910000 Buy Now
  • Switch 2
    Rp910000 Buy Now
Tags: Resident Evil Requiemreview game
Previous Post

Planet of Lana II: Children of the Leaf Pamer Mekanik Baru & Gameplay Bawah Air!

Next Post

User RTX 40 Wajib “Downgrade” Driver Demi Performa Maksimal di Resident Evil Requiem!

Jimmy

Jimmy

Jimmy merupakan penulis sekaligus pendiri Upgimia.com. Saya menyukai beberapa game FPS seperti Valorant, PUBG, CSGO.. Dan di waktu luang saya juga suka memainkan game lainnya seperti game petualangan GOW Ragnarok, Expedition 33, Persona series. Game terbaik bagi saya saat ini adalah Expedition 33, Personal 5 Royal, dan DRAGON QUEST XI Echoes of an Elusive Age S (Yapp pada dasarnya saya menyukai game turn-based)

Related Posts

review 007 First Light
Review

Review 007 First Light

review game forza horizon 6
Review

Review Forza Horizon 6

Review game REPLACED
Review

Review REPLACED

Next Post
User RTX 40 Wajib "Downgrade" Driver

User RTX 40 Wajib "Downgrade" Driver Demi Performa Maksimal di Resident Evil Requiem!

  • Trending
  • Latest
God of War: Laufey Resmi Diumumkan

Faye Hidup Lagi?! Game Baru ‘God of War: Laufey’ Resmi Diumumkan, Pamer 20 Menit Gameplay yang Mind-Blowing!

Juni 4, 2026
Silent Hill: Townfall Hadir September 2026

Pindah Lokasi dan Pakai Sudut Pandang FPS! Silent Hill: Townfall Resmi Umumkan Tanggal Rilis September Ini!

Juni 4, 2026
Until Dawn 2 Resmi Diumumkan

Siap-Siap Senam Jantung! Until Dawn 2 Resmi Diumumkan dengan Pilihan yang Makin Brutal dan Mematikan!

Juni 4, 2026
Tomb Raider: Legacy of Atlantis Resmi Rilis Februari 2027

Siap Petualangan Lagi! Tomb Raider: Legacy of Atlantis Resmi Rilis Februari 2027, Ada Bonus Kostum Klasik Lara Croft!

Juni 4, 2026
Silent Hill: Townfall Hadir September 2026

Pindah Lokasi dan Pakai Sudut Pandang FPS! Silent Hill: Townfall Resmi Umumkan Tanggal Rilis September Ini!

Juni 4, 2026
God of War: Laufey Resmi Diumumkan

Faye Hidup Lagi?! Game Baru ‘God of War: Laufey’ Resmi Diumumkan, Pamer 20 Menit Gameplay yang Mind-Blowing!

Juni 4, 2026
Until Dawn 2 Resmi Diumumkan

Siap-Siap Senam Jantung! Until Dawn 2 Resmi Diumumkan dengan Pilihan yang Makin Brutal dan Mematikan!

Juni 4, 2026
Tomb Raider: Legacy of Atlantis Resmi Rilis Februari 2027

Siap Petualangan Lagi! Tomb Raider: Legacy of Atlantis Resmi Rilis Februari 2027, Ada Bonus Kostum Klasik Lara Croft!

Juni 4, 2026
Upgimia

© Copyright Upgimia 2026. All rights reserved.

Navigasi

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Tim Redaksi
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman Redaksi
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • PC
    • Playstation
    • Xbox
    • Switch
    • Mobile
  • Review
  • Side Quest

© Copyright Upgimia 2026. All rights reserved.